Senin, 11 November 2013

Re-Use of Cap Bottle

Ide bagus. Sederhana tapi sangat berguna. Sumber: Trust Me, I'm An Engineer on facebook.
Melihat tayangan program investigasi dan sejenisnya di TV, aku seringkali khawatir ketika hendak membuang botol bekas minuman. Aku suka sekali minuman kemasan (ya...ya... I know it's not all good :p), maka dari itu, sampahnya cukup banyak untuk dibuang (kuharap, didaur ulang). Tapi yang terjadi, kadang para pengusaha abal-abal 'mendaur-ulang' kembali botol-botol bekas itu, mengisinya dengan air mineral atau teh atau sirup yang tak kalah abal-abal, lalu menyegelnya kembali untuk kemudian diedarkan ke pasaran seolah itu adalah produk asli. Ini berbahayyaa...!!!
Untuk mengantisipasi hal itu, seringkali aku harus mengupas label botol sebelum membuangnya ke tempat sampah. Kadang merusak botolnya sekalian supaya memang tak bisa lagi digunakan oleh pengusaha air mineral kemasan abal-abal itu. Tapi ternyata ada ide yang lebih baik dari itu. Mari manfaatkan tutup botol untuk menyegel kantong plastik kita. Tidak perlu menyimpul (yang kadang terlalu ketat sehingga sulit dibuka), tapi cukup dengan memanfaatkan tutup botol bekas air kemasan. Praktis. Ide sederhana yang ah.... brilian menurutku. ;)

Kamis, 15 Agustus 2013

Pohon Markisaaaa...!

Halaman rumahku ditumbuhi banyak tanaman. Rimbun sih... tapi karena akunya pemalesan merawat tanaman, jadilah rimbun halaman rumah itu lebih mirip hutan lindung daripada taman depan rumah. Sebetulnya senang deh punya banyak tanaman di halaman rumah. Selain pohon buah yang menghasilkan buah di musimnya, banyak juga tanaman bunga yang jadi penyejuk mata dan memanjakan indra penciuman saat bunganya bermekaran. 
Tapi tanaman satu ini memang sempat bikin naik darah. Lagi. Dulu sempat tumbuh dan merambat ke mana-mana, lalu kubabat habis sampai akarnya. Rasanya... Tapi rupanya tanaman markisa kuning (passiflora flavicarva) yang tumbuh di halaman depan ini bandel juga ya. Dia tumbuh lagi, walaupun tak kutahu kapan kami pernah menanamnya. Dia tumbuh begitu saja tanpa perawatan khusus, dan merambat ke mana-mana dengan daya cengkeram gerakan tigmotropis dari sulur-sulurnya. Dia merambat dan mencengkeram dahan dan ranting delima di dekatnya, lalu berlanjut ke pagar hingga genting yang sulit dijangkau. Sementara di ujung yang lain dia merambat ke tanaman anggrek bahkan dengan semena-mena dia membelit daun-daun suplir yang tak berdaya. 
Selama beberapa bulan, kondisi demikian sempat kubiarkan, karena kutahu dia akan berbuah cukup lebat nantinya. Bunganya yang cantik sempat jadi penghiburku juga. Kelopak bunganya yang hijau muda terlihat kontras dengan semburat ungu tua di bagian tengahnya. Ditambah dengan paduan putik dan benang sari yang membentuk lingkaran, bunga ini terlihat sangat cantik saat mekar sempurna. Setelah itu, buahnya mulai bermunculan satu persatu. Bentuknya yang berupa lonjongan mulus sebesar kepalan tangan dengan warna kuning cerah cukup menarik minat. Aku sendiri tak begitu suka, karena bijinya yang begitu banyak, merepotkan diri sendiri saat hendak mengkonsumsinya. 
Sesekali, kubawa buah markisa ini ke sekolah, kutawarkan pada teman-teman guru, dan banyak saja peminatnya. Sebetulnya kalau mau repot sedikit, dengan memprosesnya dengan blender, lalu dicampur minuman soda dan es batu, wah... pasti segar sekali. Rasanya yang asam segar pasti bisa jadi penawar dahaga di hari panas. Tapi silakan saja kalau teman-teman mau. Aku sih males repot-repot begitu. Tapi kalau sirup markisa, aku sih suka. :)
Kembali ke pohon Markisa di depan rumah, akhirnya kupangkas juga ketika sulurnya sudah merambat ke mana-mana. Kerja bakti beberapa jam untuk membersihkan halaman depan rumah cukup membuahkan hasil. Teras depan rumah terlihat lebih terang karena cahaya matahari tidak terhalang daun-daun rimbunnya. Kutunggu beberapa hari ini sampai buah-buahnya matang dan bisa dipanen. Ahhay... dipanen? Padahal buahnya tidak matang serempak. Ya sudahlah, aku tunggu buahnya matang satu-satu, petik dan bagikan pada yang mau, setelah itu kupangkas habis sampai ke akarnya ya. Nanti tak ada ampun bagimu. Aku males ngolah kamu satu-satu, lebih baik beli sirupnya aja deh. :p
NOTE: 
Markisa, punya kampung halaman nun jauh di daerah tropis dan sub tropis di Amerika. Buah ini kemudian menyebar ke berbagai tempat di dunia dan mempunyai beragam nama. Sebagai contoh, di Portugis buah ini dikenal dengan nama maracuj├í, sedangkan Inggris menyebutnya dengan Passion Fruit. Di tempat asalnya, buah ini disebut dengan nama Granadilla, sedangkan di Israel buah ini dinamai sesuai keluarganya, Pasiflora. Di Hawaii, lain lagi namanya, yaitu Liliko╩╗i, sedangkan di Indonesia kita kenal buah ini sebagai markisa. 
Ada tiga jenis markisa di Indonesia, yaitu markisa ungu (Passiflora edulis) yang biasa diolah menjadi sirup, markisa kuning (Passiflora flavicarva) yang ukurannya relatif lebih besar dibanding markisa ungu, pun lebih asam, dan ada varian markisa lain yang rasanya justru manis. Di Jawa Barat dikenal dengan nama konyal (Passiflora ligularis) dan biasa dimakan begitu saja.
Buah markisa mengandung banyak vitamin A, C, dan K serta memiliki kandungan fosfor, besi, dan kalium. Pendek kata, ini buah yang baik untuk kesehatan. tapi tetap saja, malas betul aku untuk mengunyah biji-bijinya yang begitu banyak . Jadi, sekali lagi, mari beli sirupnya saja. 

Selasa, 12 Maret 2013

Bungaku

Sudah cukup lama juga aku tidak merawat tanaman bunga peninggalan ibu. Aku seringkali alpa menyiramnya, sampai satu-dua layu dan mengering. Tapi belakangan ini kutekadkan diri untuk merawat kembali tanaman bunga -terutama Anggrek- yang banyak terdapat di taman samping. Dan alhamdulillah, tamanku mulai berseri lagi.
Di 'taman' atas, batang-batang kaktus memunculkan bunga-bunga besar yang hanya mekar semalam. Ah... selalu terlewat mengabadikannya. Tapi masih ada beberapa kuncup yang siap mekar di hari-hari mendatang. Sementara itu, beberapa kuntum anggrek mulai menampakkan diri. Salah satunya malah sudah mulai mekar, varian phalaenopsis berbintik ini yang mulai mekar kembar. Kuntum lainnya akan mekar sempurna di beberapa hari mendatang. Aku tunggu.
Sementara itu, beberapa bunga yang lain pun dalam antrian untuk mekar. Tunggu... nanti gambar-gambarnya kuunggah di sini juga, untuk menemani phalaenopsis bintik yang ini. Yang jelas, sesuai quote yang kupasang jadi cover facebook-ku, selalu lakukan yang terbaik. Apa yang kau taman sekarang, akan kau panen kelak. Kalaupun tidak dipanen, insya Allah akan kelihatan hasilnya. Jadi, ayo menanam ;)