Sabtu, 16 Oktober 2010

Hari Cuci Tangan Sedunia

Hari ini, 15 Oktober ditahbiskan sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPSS). PBB menggagas ide tersebut dan menetapkannya sebagai hari cuci tangan sedunia sejak tahun 2008 lalu. Hari ini juga bertepatan dengan event Blog Action Day yang mengusung tema penyelamatan air.
Ini merupakan upaya kita untuk menangkal penyakit yang bisa menyerang tubuh kita. Berbagai penyakit bisa datang melalui perantara tangan yang penuh kuman. Maka dari itu, yuk, kita biasakan mencuci tangan pakai sabun. Kita biasakan lagi putra-putri kita untuk mencuci tangan sebelum makan ataupun setelah beraktivitas -terutama di luar rumah- dan menyempurnakan kegiatan mencuci tangan dengan sabun.
Mencuci tangan dengan air saja biasa kita lakukan, tapi sabun dapat membantu meluruhkan lemak dan kotoran yang mengandung kuman. Dengan penggunaan yang benar, sabun apa pun memiliki efektifitas yang sama dalam meluruhkan kuman-kuman penyebab penyakit, walaupun sabun cair ditengarai sebagai salah satu jenis sabun yang paling efektif, seperti dilansir oleh newsletter dari depkes berikut ini.
Tahun ini, HCTPSS akan melibatkan sekolah dan memfokuskan pada anak-anak, dan mengedukasi mereka sejak dini di sekolah. Diharapkan, mereka dapat membawa kebiasaan ini hingga ke dalam rumah dan berperan sebagai agen perubahan CTPS dalam keluarga, seperti dilansir oleh Yayasan Eureka Indonesia dalam berita onlinenya. Tahun 2009 lalu, Unilever Indonesia sangat mendukung gerakan ini, dan diharapkan setelah ini anak-anak Indonesia bisa membawa kebiasaan baik ini hingga tumbuh lebih sehat dan terhindar dari banyak penyakit seperti diare, cholera, disentri, ISPA, cacingan, hingga Hepatitis A.
Beberapa item pendukung kampanye ini disebar ke berbagai tempat, terutama sekolah. Sayangnya, sekolah kami terlambat mendapatkan informasi ini, walaupun tetap mendapatkan beberapa sticker dan buku pendukung kampanye HCTPSS ini. Siap! Kami akan terapkan gerakan cuci tangan pakai sabun yang benar untuk putra-putri kami, bahkan bagi kami sendiri. Cara-caranya, sederhana saja, tentunya. Bisa dilihat lengkapnya di situs depkes berikut ini. Yuk, kita cegah penyakit dengan mencuci tangan pakai sabun. Jangan cuma hari ini saja, tapi mari kita mulai biasakan lagi sejak hari ini.

Rabu, 13 Oktober 2010

Berkat Daur Ulang, Jadi Wanita Terkaya di Dunia

Berita yang kubaca di yahoo! news, menguatkan apa yang kudengar dari radio Rase dalam perjalanan menuju tempat kerja pagi ini. 11 dari 20 wanita terkaya di dunia berasal dari Cina, dan wanita terkaya adalah Zhang Yin, yang dijuluki ratu daur ulang Cina.
Terbukti, bahwa ramah pada alam tidak akan membuatmu sengsara, bahkan mungkin jadi kaya raya, seperti Zhang Yin. Kiat-kiatnya membangun kerajaan (atau keratuan) kertasnya, bisa dibaca di sini. Membuat kertas daur ulang bisa jadi bisnis yang menjanjikan. Memanfaatkan kertas bekas yang notabene adalah sampah, kemudian mengolahnya menjadi kertas baru ataupun benda lain yang mempunyai nilai lebih, tidak hanya menunjukkan kepedulian dan keramahan pada lingkungan, tapi juga bisa menguntungkan secara finansial.
Di Indonesia, yang kutahu ada Suhuf Art Paper, yang memproduksi kertas daur ulang berseni. Produknya sudah diaplikasikan ke banyak benda. Hmm... ulasan tentang itu akan kubuat di posting-an lain saja, postingan khusus. Insya Allah.

Senin, 04 Oktober 2010

Greenmap Forum Hijau Bandung

Isyu pemanasan global bersama efek rumah kaca-nya semakin gencar terdengar. Tentunya kita tak bisa hanya berdiam diri saja mengetahuinya. Yuk kita ambil tindakan untuk memperlambat laju pemanasan global itu. Bumi makin panas. Yuk kita beri sedikit kesejukan. Bumi makin gersang, yuk kita hijaukan. 
Satu komunitas yang  berupaya menggalang ide dan menyebarluaskan gaya hidup 'hijau' adalah forum hijau bandung. Salah satu konsep yang digagas oleh mas Sano (ketua Forum Hijau Bandung) adalah untuk memetakan SAKE/BABE/LAPAK/Tempat Rongsok (apapun itulah namanya) di wilayah masing2.
Kabarnya, kota Bandung sudah mulai nih (wah... aku yang orang Bandung kok malah baru tahu. Semangat! Baru tahu lebih baik daripada nggak juga tahu ;)) Yuk kita cek di http://forumhijaubandung.wordpress.com/2010/08/24/peta-hijau-tematik-persampahan-kota-bandung/ Tapi masih pakai googlemap biasa, bentar lagi dicicil dipindah ke opengreenmap. Aku baru saja mengecek link tersebut, dan memang akan sangat berguna bagi greeners untuk memisahkan sampah dan mengumpulkannya ke sentra sampah tertentu sesuai yang diinginkan/diperlukan.
Ide yang bagus tuh kalau tiap kota, di manapun berada bisa terpetakan lokasi di mana tempat mengumpulkan sampah yang telah DIPISAHKAN sejak awal berdasarkan jenisnya.Di Bandung muncul kesepakatan penggunaan kata PISAH bukan PILAH. Karena pilah lebih bermakna sesuatu yg sudah tercampur baru dipilah. Namun sebuah produk pada proses habis pakainya dia kan bisa langsung DIPISAHKAN berdasarkan jenisnya asal sudah disediakan tempat yang terpisah pula.

Kamis, 30 September 2010

Menuju "Paperless and/or Less-paper World"

Sebuah tulisan dari Papa Fariz yang dipublikasikan di tekno.kompas.com, membuatku tergelitik. Beberapa waktu yang lalu, sebuah ide koran atau buku digital sempat mampir di kepalaku. Akan ada masanya, koran tidak lagi laku. Bukan karena beritanya yang basi, tapi kecepatannya dikalahkan oleh media online. 
Kindle, perangkat pembaca e-book buatan Amazon.
Aku bermimpi akan adanya suatu alat elektronik yang memiliki seluruh fungsi koran atau majalah, tanpa kertas. Paperless newspaper. Namanya jadi terdengar lucu. Saat ini, mungkin gadget itu sudah tersedia, walaupun belum beredar secara luas. Agar dapat tetap up to date dengan berita, namun juga peduli pada bumi dengan mengurangi konsumsi kertas. Bagus bukan? Sungguh, aku ingin memilikinya.

Senin, 27 September 2010

Climate Change Action Training

Campus Center Timur ITB, Jl. Ganesha 10. Sabtu, 25 September 2010. Kuputuskan untuk ikut serta dalam workshop ini, dalam upaya membuat langkah kecil yang kelak akan berkesinambungan untuk menghijaukan Indonesia, menyelamatkan bumi. Terlihat ambisius dan sedikit utopis, tapi memang perubahan iklim itu nyata, dan kita perlu membangun awareness mengenai hal ini, dan bertindak nyata untuk mengurangi laju perubahan iklim yang kita hadapi saat ini. 
Film An Inconvenient Truth yang digarap oleh Al Gore, menjadi salah satu penggerak berbagai gerakan penyelamatan bumi saat ini. Semua berawal dari hal-hal kecil, namun bisa berdampak sangat besar. Berbagai hal kecil yang membuat kita makin nyaman hidup di era industri ini, mempercepat laju pemanasan global dengan efek rumah kacanya. Ketika segala apa yang kita lakukan sudah terasa semakin jauh, hingga berdampak kepada membesarnya lubang ozon yang mencancam keselamatan bumi beserta semua makhluk yang tinggal di atasnya, maka sudah saatnya kita menahan laju kita, dan mulai melakukan hal-hal kecil yang akan berdampak besar untuk penyelamatan bumi yang kita tinggali ini.
Sungguh sangat ingin menulis banyak tentang hal ini, tapi insya Allah di kesempatan mendatang, akan kuulas satu demi satu mengenai apa yang perlu menjadi perhatian dan kekhawatiran kita, juga apa yang bisa kita lakukan untuk membuat bumi makin nyaman ditinggali, namun tetap aman bagi generasi mendatang. Mari selamatkan bumi!

Sabtu, 18 September 2010

Kontak Saya Saja, Neng...

Beberapa waktu lalu aku bersih-bersih rumah, dan menyortir beberapa barang yang sudah tak berguna. Sejumlah buku lama yang sudah sangat out of date (bayangkan saja, Panduan Menulis Dengan Chi-Writer: huhuy... jaman kapan tuh...?; buku-buku jaman SMP dan SMA: wah...sudah berbilang puluhan tahun yang lalu), botol-botol bekas, juga benda lain yang usang berdebu, tak bermutu. Semuanya kutumpuk di teras samping, siap untuk diangkut dan dibawa ke tempat rongsokan.
Tak berapa lama kemudian, ketika aku sedang menyirami tanaman Anggrek ibuku, terdengar suara seorang lelaki memanggil-manggil, "Bu... ada barang bekas yang mau dijual?" tanyanya keras-keras. Aku pun menanggapi positif. Kupikir, barang-barang yang kutumpuk tadi, daripada 'cuma' dibuang kan lumayan juga kalo bisa dijual dan jadi duit ;)
Kubukakan pintu teras samping untuk mempersilakan si bapak itu masuk. Dia bukan sekedar pemulung, tapi biasa membeli barang-barang bekas dari rumah-rumah, untuk kemudian dia jual kembali kepada 'penadah' ;) Kupikir, yang begini ini yang lebih bermanfaat daripada pemulung yang biasanya hanya bisa mengobrak-abrik tempat sampah :( 
Aku sendiri sebetulnya sudah biasa untuk memilah sampah sebelum membuangnya. Minimal, memisahkan sampah rumah tangga/dapur dengan sampah berupa barang bekas. Tapi pemulung mana mau tahu? Mereka obrak-abrik saja kantong plastik di bak sampak samping rumah untuk mencari benda-benda yang kira-kira bisa diambil dan dimanfaatkan, tanpa peduli pasukan kuning tukang sampah nanti akan kerepotan mengambil sampah yang jadi terserak berantakan. :(
Pendek kata, aku menemui bapak pemulung yang belakangan kutahu namanya Eko. Dia berniat membeli barang-barang yang kutumpuk di samping rumah. Ada sekardus besar buku dan kertas-kertas tak berguna, juga satu kantong plastik yang juga besar, berisi benda-benda tak terpakai lainnya. Sementara aku yang memang berniat membuangnya, justru terbantu dengan keberadaan si bapak. Dia sibuk mengikat barang-barang yang akan dibawanya, sambil bicara ngalor-ngidul tentang timbangan yang valid digunakan... tentang barang-barang yang bersedia dibelinya... dan lain sebagainya. Dia bilang, pastinya masih banyak benda-benda tak berguna yang ada di rumah sebesar yang kutinggali sekarang ini. Ya... begitulah kira-kira. Cuma tinggal mencari waktu untuk merapikannya saja, begitu lanjutnya. Dia katakan lagi, jika sekiranya aku sudah menyiapkan barang-barang bekas untuk dibuang dan dimanfaatkan olehnya, hubungi dia saja. 
Kupikir, aku harus siap-siap janjian untuk ketemu dia lagi beberapa pekan berikutnya, tapi ternyata dia bilang, "Kontak saya saja, neng." Dia lalu memberikan nomor HPnya agar aku bisa menghubunginya kapan saja. Wow! Pemulung masa kini gitu lho. Cukup angkat telfon dan kirim pesan pendek, minta dia menjemput barang bekas di alamat tertentu, dan dia akan datang. Yang begini lebih praktis ya? Aku suka...! ;)

Jumat, 10 September 2010

Langkah Hijau

Manfaatkan pekarangan rumah sebagai warung hidup yuk...!

Minggu, 05 September 2010

Kartu Elektronik Idul Fitri

Jelang Syawal, kusampaikan ucapan selamat Idul Fitri 1431 Hijriah. Mohon maaf lahir-batin, kali ini lagi-lagi tanpa kertas. Budaya surat dan kartu elektronik telah mengakar kuat, kulakukan untuk menghemat, sehingga tak perlu kertas dan perangko. Walau terasa kurang sentuhan personal, namun lebih ramah lingkungan, bukan? ;)
Taqabbalallaahu mina wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, menerima pahala shaum kita, dan Dia berkenan mengembalikan kita kepada fitrah. Amiin.
Selamat Idul Fitri 1431 Hijriah.
Mohon maaf lahir batin.

Senin, 09 Agustus 2010

Langkah Hijau

"Be like the flower, turn your face to the sun." ~ Kahlil Gibran

Kamis, 29 Juli 2010

Gunakan Tempat Sampah di Mobil (Mewah) Anda

Bukan hanya sekali, sudah berkali-kali kulihat fenomena orang-orang membuang sampah sembarangan ke jalan. Dan tidak jarang, kegiatan itu dilakukan oleh orang-orang terpelajar berkantong tebal. Aku yakin. Buktinya, banyak di antara mereka mengendarai mobil mewah. Ini adalah indikator yang menunjukkan bahwa mereka termasuk kalangan berada, bukan? Dan kalangan berada, minimal berpendidikan SMA, atau bahkan kuliah-an. Tapi dengan seenaknya, mereka membuang karcis tol tepat di depan gerbang tol yang baru saja mereka lewati. Satu-dua orang yang membuang sampah, mungkin tak akan terlalu kentara, tapi tentu saja aksi tak terpuji itu akan dengan mudah ditiru oleh orang lain. Kulihat beberapa lembar karcis tol bertebaran di area sekitar gerbang tol. Berkali-kali juga kulihat pengendara mobil mewah membuang karcis tol itu begitu saja. Ironi sekali, bukan? Ketika mereka sanggup menyisihkan sejumlah uang untuk membeli kendaraan mewah tersebut, adakah mereka bisa menyisihkan sebagian uang mereka untuk membeli tempat sampah? Tempatkan di mobil mewah mereka, dan gunakan dengan optimal untuk menyimpan sampah sementara agar tidak dibuang sembarangan ke jalan. Yuk, keep our town beautiful.

Senin, 26 Juli 2010

Langkah Hijau

Orang yang pesimis hanya sering menyalahkan keadaan sehingga ia tidak sukses. Orang optimis dan sukses selalu mencari kesempatan positif yang bisa dikembangkan untuk keperluan banyak orang
(Tung Desem Waringin)

Bunuh Saja...!

Nggak… aku bukannya kejam mau bunuh-bunuhan. Ini cuma ngomongin listrik aja kok, yang mulai bulan Juli ini naik lagi tarifnya. Listrik… listrik. Jadi perbincangan banyak orang belakangan ini.
Koran Republika beberapa waktu lalu memuat berita tentang tanggapan masyarakat umum -khususnya kelas menengah ke bawah- tentang hal ini. Memangkas konsumsi listrik, jelas akan dilakukan. Olehku juga. Ini nih beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk menghemat energi listrik, dari rumah kita sendiri.
  1. Lampu, nyalakan ketika hari telah benar-benar gelap, dan segera matikan ketika cahaya pagi sudah menyentuh bumi. Itu kerjaannya kakakku banget deh. Kadang aku mesti meraba-raba untuk ke kamar mandi, soalnya lampu ruang tengah sudah dia matikan pagi-pagi sekali. Tak jarang, dia juga mencuci piring dalam gelap. Hemat listrik, baby...! Tapi maaf-maaf, soal kualitas kebersihan piring yang dicucinya? Aku nggak jamin ya... :p
  2. TV, nyalakan sekedarnya saja. Mungkin radio yang konsumsi listriknya relatif lebih kecil akan lebih sering dioperasikan dibandingkan TV, atau mungkin malah dimatikan sama sekali. Biasanya aku dengar ceramah pagi di TV, sekarang pindah ke radio lagi, seperi masa kost dulu. Toh aku hanya perlu informasinya, tidak perlu melihat gambarnya. Sambil dengar ceramah atau diskusi keagamaan, aku bisa menyiapkan sarapan, nyeterika, dandan (pake eyeliner kan nggak bisa sambil nonton TV :p
  3. Menyeterika, yang sebelumnya dengan ringan hati hanya kulakukan ketika berniat mengenakan pakaian tertentu, sekarang polanya harus berubah! Menyeterika sebanyak-banyaknya sekalian, mumpung seterika panas. Tapi ada yang lebih ekstrim lagi. Seorang ibu rumah tangga yang komentarnya dicatat oleh Republika bilang bahwa dia hanya akan menyeterika seragam anak-anak dan baju kerja suaminya saja. Baju-bajunya sendiri, tidak perlu diseterika, katanya. Kusut? Kusut deh… toh cuma dipake di rumah. Wah… ide briliant nih ;) Baju tidurku juga nggak perlu diseterika (rapi-rapi amat) deh, toh nantinya juga bakalan kusut dibawa tidur :p
  4. Penghematan lainnya? Konsumsi air dioptimalkan dengan adanya toren penampung air. Nyalakan pompa air, optimalkan manfaat pelampung, supaya listrik berhenti secara otomatis ketika toren sudah penuh. Setelah air penuh tersimpan di dalam toren, bisa keluarkan kapan saja di saat perlu. Gunakan air secara berulang. Bisa lho. Misalnya air bekas wudhu, ditampung untuk mengepel rumah. Air cucian beras, ditampung juga, bisa dipakai untuk menyiram tamanan. Hemat kan?
  5. Peralatan listrik lainnya akan banyak menganggur nih. Aku sendiri sudah lama nggak pakai blender ataupun mixer. Kapan juga aku bikin kue? Jelang Ramadhan dan Idul Fitri nanti? Hm… itu dipikirkan nanti aja deh. Lampu? Kalau tidur, tentu saja dimatikan. Tapi di bulan Ramadhan nanti, perlu penerangan dong untuk menemani saat makan sahur. Belum lagi jika acara Ramadhan di TV begitu serunya. Wah, bakalan gagal nih program pangkas kebutuhan listrik. Bagaimana ini…????
Tapi pada intinya, penghematan energi listrik sangat bisa kita lakukan. Selain mempersedikit frekuensi pemakaiannya, tentu saja ketika peralatan listrik tak dipakai, diharapkan untuk memutus sama sekali kontak dengan sumber listrik. Matikan TV sama sekali, jangan hanya di-set power off karena walaupun sedikit, listrik masih mengalir. Makin sedikit pemakaian listrik kita, makin ringan juga kita membayar tagihan listrik. Hematnya bisa jadi lingkaran yang tak putus-putus. Ayo ah, berhemat dari sekarang, untuk masa depan yang lebih cemerlang.

Kamis, 01 Juli 2010

Langkah Hijau

Cara menghilangkan rasa malas adalah kita harus punya alasan yang sangat kuat, yaitu: Mencari nikmat dan Menghindari sengsara (Tung Desem Waringin)